Alam Pun Berbahasa

Pagi kali ini berselimut kabut tipis, dingin merasuk tubuhku membuat aku menarik kembali selimut tebal menutup rapat tanpa celah. Sesaat kemudian, aku teringat sebuah bukit yang kemarin sempat aku lewati. Dalam hati aku berkata, pagi di bukit akan berbeda pastinya. Aku sibak kembali selimut yang membungkus tubuhku, aku beranjak dari tempat tidurku. Sembari meregangkan kaki dan tangan, meluruskan badan, kutengok jam dinding, masih pukul 05.00 pagi, cukup untuk berjalan ke bukit dan menunggu fajar pagi.

Selesai cuci muka, aku berjalan menyusuri jalan setapak dan sedikit menanjak. Cukup berkeringat untuk pagi sedingin ini. Kusapa setiap warga yang berpapasan di jalan. Mereka cukup ramah, aku malu kalau hanya terus menunduk atau diam saja, seolah tak peduli senyum dan sapa ramah mereka. Aku baru tiga hari tinggal di desa ini, di rumah Eyang. Aku sengaja mengisi liburan kali ini dengan menepi dari hingar bingar keramaian kota. Aku tahu banyak hal yang berbeda, karena itulah aku ingin mencoba. Tak ada salahnya tinggal di desa untuk beberapa minggu.

Sesampai di bukit, aku segera menuju saung di tengah kebun. Wow, sungguh luar biasa indah. Mataku berbinar tak berhenti mandang deretan bukit dan pegunungan yang berselimut kabut tipis, nampak ketenangan dan kesejukan yang seolah menyuarakan alam kedamaian. Tak pernah aku lihat pemandangan yang seperti ini. Belum juga berhenti mata ini takjub dengan perbukitan yang berselimut kabut, aku melihat dua gunung yang memesona dari jauh. Ya meski jauh, tapi ini sungguh pagi yang indah.

Aku tahu sekarang, alam pun berbahasa. Alam pun memiliki kata demi kata. Indah, tenang, sejuk, damai, adalah deretan kata yang dimiliki alam ini. Alam bercerita namun tak sedikit manusia yang mengabaikannya. Sibuk tak ingin mendengar alam berkata apa, sibuk dengan kebutuhan hidup tanpa mau sedikit peka.

Sebentar lagi hari bumi, apa yang pantas dirayakan kalau kita tak pernah mau mendengarkan apa yang diinginkan alam sekitar kita.

2 thoughts on “Alam Pun Berbahasa

  1. Be says:

    Nah ini menarok ……hari bumi apa yang bisa kita beri untuk bumi ini… setelah sekian lama kita slalu ambil apapun yang ada di bumi……

    Menarik jika bahas ini……

    • Arthaliya says:

      Selama ini kita hanya menggunakan, namun sedikit sekali yang melakukan sesuatu untuk bumi. Seolah bumi itu alat yang hanya kita pakai lalu besok diganti dengan membeli. Padahal bumi itu hidup seperti kita, bedanya bumi punya bahasa yg beda dgn kita manusia. Bumi seharusnya diperlakukan sama seperti kita manusia ingin diperlakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.