Bebas Berekspresi Tanpa Gengsi

Saya sangat menyukai bersepeda, karena menurut saya bersepeda itu menyenangkan hati, dan menyehatkan. Selain itu, saat kita mengayuh sepeda dapat mengatur ritmenya mau cepat atau lambat. Dulu sewaktu saya masih kecil saya menyukai bersepeda, kemana-mana selalu naik sepeda. Entah bermain bersama teman sebaya atau bermain sendiri, juga saat saya mulai bersekolah di bangku SD.

Saat pertama kali saya belajar naik sepeda, saya masih ingat sepeda jengki warna merah ada keranjang didepan. Sepeda jengki itu sebutan sepeda untuk anak perempuan pada waktu itu. Bentuknya kurang lebih sama dengan sepeda milik saya saat ini (lihat gambar) bedanya sepeda jengki pertama saya gigi rodanya tidak dapat diatur atau hanya satu gigi rantai saja. Dan ukurannya lebih kecil. Saya memakai sepeda jengki warna merah ini hingga kelas 3 Sekolah Dasar. Hahaa.. yang saya ingat sepeda saya ini berukuran kecil namun sedel atau tempat duduknya dapat ditinggikan hingga maksimal. Yaa maksimalnya hingga saya kelas 3 SD. Kurang lebih sepeda jengki merah ini saya pakai selama 4 tahun, dari saya TK hingga berusia 8 tahun. Setelah itu pensiun memakainya. Ya memang saya bisa naik sepeda itu sejak masih berusia 4 tahun. Belum beroda dua masih beroda empat hehehee… Jadi saya bisa sendiri bersepeda dengan bantuan roda, kemudia satu roda sebelah kiri dilepas dan lama-lama hanya beroda dua saja. Senang mengingat masa itu…

Saya pergi dan pulang dengan bersepeda sendiri hingga SMP kelas 3. Meski jarak rumah dan sekolah mulai jauh tetapi masih bertahan dengan naik sepeda, berangkat bersama kawan-kawan ada juga yang lalu bertemu atau pisah dipersimpangan dengan beberapa diantara mereka. Ada yang satu sekolah beda tempat tinggal, ada yang satu lokasi tempat tinggal tapi beda sekolah. Asyik, sungguh asyik dan menyenangkan.

Saat SMU saya sudah tidak naik sepeda, karena tempat tinggal saya pindah sangat jauh dari pusat kota dan tentunya dengan tempat saya bersekolah hingga lulus kuliah dan bekerja. Sangat jarang bahkan tidak pernah. Meski dirumah masih ada sepeda jengki warna hitam yang nomor sekian. Hehehee.. ohyaa, yang ada dalam photo itu sepesa jengki milik adik saya warna putih. Sedangkan sepeda jengki milik saya warna hitam. Sekitar tahun 2008 kalau gak salah waktu membeli sepeda itu bersamaan. Harga sepeda jengki saya sekitar 1.1 Jt sedangkan milik adik sekitar 1.5 Jt beda merk soalnya. Hehehee… Namun hingga saat ini sepeda tersebut masih ada dan masih bisa dipergunakan loh.. jangan salah, awet kan yaaa…

Meski jarang sekali dipakai, namun saat saya pindah rumah kedua sepeda itu beberapa kali saya pakai untuk berkeliling kampung. Sekedar melepas penat dan kejenuhan karena rutinitas atau sengaja untuk bersepeda sambil menghirup udara segar di pagi hari. Sebenarnya saya ingin bersepeda saat pergi kerja, namun jarak yang jauh dan padatnya lalu lintas kota membuat saya mengurungkan niat tersebut. Hanya sekali saja saya pernah pergi dan pulang kerja dengan bersepeda.

Saat ini ketika saya berada di borneo, keinginan saya untuk pergi dan pulang kerja naik sepeda bisa terwujud. Kotawaringin Barat salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah masih tergolong sepi dan belum padat penduduk. Sehingga saya merasa nyaman saat pergi dan pulang naik sepeda. Awalnya banyak orang melihat saya naik sepeda dan mungkin merasa heran, ada yang bilang mbak pasti bukan asli sini yaa… Jawab saya singkat saja iya bukan asli sini, oh pantas sahutnya… Dalam benak saya pantas apa yaahh…. Usut punya usut, ternyata kebanyak orang asli sini yang dimaksudkan jarang sekali bahkan tidak pernah bersepeda untuk pergi dan pulang kerja, karena gengsi. Jauh dekat naik sepeda motor. Begitu katanya. Nah, karena saya bukan asli sini jadi saya gak perlu gengsi donk pikir saya singkat.

Memang bukan sekedar karena saya tidak memiliki sepeda motor disini, namun memang karena saya ingin dan suka naik sepeda dan lagi masih memungkinkan untuk bersepeda jadi yaa bersepeda sajalah tanpa harus terbebani dengan apa kata orang. Yaa kaan… Lama-lama saya semakin menikmati kemana saja dengan bersepesa meski sedikit jauh dan bukan sedikit panas kalau disini sangat panas karena lebih dekat dengan garis khatulistiwa. Ditambah lagi dengan kiriman photo dari teman saya Kak Tasya yang sekarang ini berdomisili di Belanda membuat saya menepis habis gengsi. Di Belanda sana, banyak malah wanita berdandan cantik dengan heels dan baju rapi yang bersepeda, namun tak ada yang mengoloknya. Pikir saya, kalau disini juga tidak lantas berbaju seksi dan bersepeda pula kalee.. tetap ada norma yang harus dijaga itu menurut saya.

Jadi, meski bebas berekspresi tanpa gengsi tetap harus menjunjung budaya, dalam hal ini kesopanan dalam berpakaian saat bersepeda.

#LadiesArtVenture #bersepeda #borneo #KotawaringinBarat #2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.