Bersepeda Tapi Wacana

Kalau bukan karena tantangan untuk bercerita selama tiga puluh hari, aku akan memilih untuk baca buku sambil menyedu teh ditemani gemericik air hujan diluar sana. Hampir aja putus dan menyerah dengan tantangan ini, namun melihat tulisan bertebaran ditembok membuatku mau tidak mau, suka tidak suka tetap melanjutkan menulis dan bercerita. Jangan disangka tak pernah ada godaan yang datang menerpa. Datangnya tuh gak pernah disangka, seperti hujan disiang bolong, rintiknya cuma satu tapi temannya banyak.

Lagi-lagi adalah wacana yang belum terwujud, untuk kembali bersepeda pagi seperti dulu. Padahal ada teman atau tidak biasanya aku tak peduli, kukumpulkan niat untuk bangun pagi lalu bersepeda menyusuri kampung dan desa tetangga, sembari belanja ke pasar tradisional. Semenjak sepeda ku taroh dibelakang rasanya enggan sekali untuk kembali mengayuh, apalagi ban sepeda mulai nampak gembos seakan ikut malas untuk kukayuh. Niat hati untuk lebih sehat dan ramah lingkungan dengan bersepeda terhempas begitu saja dengan berbagai alasan klasik, yang panas lah, yang hujan lah. Begitu mudah tergantikan dengan sepeda motorku yang selalu terparkir didepan dan siap untuk melaju apapun kondisi cuacanya, lagi-lagi dengan alasan lebih cepat dan praktis enggak perlu capek.

Memang enggak mudah untuk memulai kembali. Niatpun serasa belum cukup kalau tak disertai aksi. Padahal kalau sudah terbiasa segalanya akan menjadi mudah dan ringan untuk dikerjakan. Seperti halnya cerita yang ku buat malam ini, juga karena kebiasaan yang sudah terbentuk melalui tantangan bersama @30haribercerita

Nah, sekarang tinggal gimana memulai untuk kembali bersepeda dengan jarak terdekat disekitar rumah. Aku berharap aku bisa memulainya kembali.

#30haribercerita #30hbc1917 #ayonulis #nulisyuk #bersepeda #motivasidirisendiri #selfreminder

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.