Caraku Mencintai Alam

Pernah suatu ketika bahkan seringkali aku melihat banyak orang-orang yang membagikan selebaran-selebaran di perempatan jalan. Mungki kita juga sering mendapati hal ini. Aku pribadi setiap kali disodori flayer atau selebaran itu selalu bertanya, apa isi dari flayer atau selebaran itu. Jika aku merasa membutuhkannya aku akan menerima, tetapi jika aku tak membutuhkannya aku akan menolak.

Bagiku hidup bukan lagi sekadar hidup, namun aku mulai memikirkan tentang alam ini dengan komitmen diri sendiri. Mengurangi sampah dalam kehidupanku. Karena aku belum mampu berbuat banyak, sehingga yang paling dekat dan nyata adalah segala sesuatu yang menyangkut diriku sendiri.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhana Allah semesta alam dengan akal yang tinggi. Dibandingkan dengan makhluk hidup yang lainnya, manusia jelas lebih mampu berpikir tentang banyak hal. Begitupun yang terjadi dengan alam ini tentu saja manusialah yang seharusnya memikirkannya. Jangan hanya sekadar meminta supaya alam memberikan banyak hasil untuk mencukupkan segala kebutuhan manusia namun manusia lantas lupa untuk menjaga dan memeliharanya.

Aku sadar aku tak mampu merubah banyak kecuali aku merubah diriku sendiri. Setidaknya aku mulai mengurangi untuk tidak menyumbang sampah. Selebaran-selebaran yang dulu pernah aku dapat dari perempatan jalan, kadang menumpuk di rumah. Lantas berikutnya, setiap kali mendapatkan selebaran di perempatan jalan aku cuek saja membuangnya tidak membawanya pulang. Namun aku sadar itu bukanlah cara yang bijak, sehingga sekarang aku memilih untuk menyaring informasi, menerima atau menolak selebaran tersebut. Ya ini caraku untuk aku peduli pada lingkungan sekitar aku. Cara aku mencintai alam ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.