Covid-19 Virus Yang Menyerang Mental dan Otak Manusia

artha.nulis

Awal tahun 2020 yang berat, dialami kita semua, terlebih kita yang berada di zona +62. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai wabah pandemi. Yang artinya  wabah itu, berjangkit serempak dimana-mana, meliputi daerah geografis yang luas. Seluruh dunia tergoncang, bahkan Indonesia. Berbagai tipikal dan karakter manusia mulai nampak, kala Virus Corona mulai menyebar ke seluruh pelosok Negeri. Yaa… Ini wabah yang belum ditemukan Vaksinnya. Meski ada beberapa obat yang bisa menyembuhkan namun belum paten atau secara resmi dinyatakan sebagai penangkal Virus Corona yang sedang merajai seluruh penjuru bumi. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga kesehatan pribadi masing-masing, memastikan stamina tetap bagus dan menjaga kebersihan masing-masing. Karena kita tak pernah tahu, apakah tubuh kita menjadi persinggahan sementara atau menjadi perantara Corona berpindah tempat.

Kepanikan mulai terjadi saat kita tahu Corona menyebar begitu cepat. Semua orang yang semula menjadikan Corona sebagai bahan tertawaan atau becandaan mulai berubah menjadi berita-berita yang mengerikan.

Cukup sampai disini.

Aku punya pandangan berbeda, entah aku ini termasuk tipe yang mana aku tidak tahu. Virus ini tidak hanya menyerang tubuh kita, namun lebih ganas lagi menyerang mental, hati dan pikiran kita. Kalau kita tidak siap, sepandai apapun kita bakalan jatuh mentalnya. Dilema, bimbang, tidak punya kepastian dan lagi hilang keyakinan dan keimanan yang lantas membuat kita tidak bijak dalam memahami setiap informasi yang ada. Jadi, sebelum menyiapkan tubuh sehat kita dengan melakukan berbagai hal yang sudah dianjurkan, bagiku lebih penting menyiapkan mental, hati dan pikiran.

Pertama, aku menutup segala akses informasi tentang covid-19 dan pemberitaan berlebihannya. Aku coba menetralkan diriku untuk sementara sambil memohon secara spiritual kepada semesta untuk menunjukan informasi bagian mana yang aku harus baca.

Kedua, aku menyiapkan hati dan pikiran untuk dapat menerima informasi seburuk apapun. Hati yang aku siapkan adalah empati supaya tidak menjadikan aku seorang yang egois dan yang lebih sulit adalah hati untuk menerima kenyataan sepahit apapun jikalau aku harus terpuruk oleh wabah ini.
Pikiran aku siapkan untuk aku tak hanya menerima informasi namun untuk aku memahami sedalam mungkin apa yang sedang terjadi dan supaya dapat melangkah untuk diriku bersama orang sekitarku.

Ketiga, aku mulai membaca mencaritahu tentang Covid-19 dengan petunjuk yang aku yakini. Mencernanya dan memahaminya. Meski banyak pertanyaan dalam diriku tentang Covid-19 aku tetap harus waras, berusaha untuk tidak gila, waspada namun tidak panik.

Aku tak sepenuhnya tahu tentang Covid-19 namun yang Aku tahu, virus ini lebih ganas menyerang mental, hati dan pikiran ku. Aku tidak panik, namun aku berpikir dan lantas melihat sekitar. Ini gilak, mereka jadi menggunakan banyak peluang disaat wabah mulai merasuk. Dari yang jualan masker dan hand sanitizer dengan harga yang fantastis. Sampai social distance yang mengarah pada anti sosial. Woy… Ini beda, ga seperti ini seharusnya. Disaat banyak orang menyebarluaskan berita tentang Corona yang menerima informasi malah menjadi-jadi seolah ingin bisa hidup sendiri. Memborong habis yang dibutuhkan tanpa memikirkan orang lain yang juga butuh. Dampaknya akan lebih buruk kalau masing-masing kita ga berpikir dan bijaksana menyikapinya. Ini bukan akhir, justru ini adalah awal. Lihat donk, rupiah yang perlahan anjlok, sudah tahu kan setelah ini kita akan hadapi apa? Jadi, tetaplah tenang supaya bisa berpikir lebih jernih. Jangan sampai virus ini membunuh akal sehat kita, membutakan mata hati kita. Hati yang gembira adalah obat yang mujarab dari segala macam penyakit. Ini adalah kunci. Jadi, jangan biarkan hal negative merasuk dalam pikiran kita, wabah ini memang harus terjadi namun biarkan virus positifnya yang kita telan dan masukan dalam hati dan pikiran kita supaya mental kita sehat.
Stop memberitakan Corona, lakukan edukasi dengan orang terdekat. Gunakan metode “gathuk tular” supaya edukasi lebih bisa dimengerti dan dipahami meski jaman sudah digitalsisasi. Virus ini melarang kita berdekatan, namun edukasinya perlu pendekatan bukan penyerbarluasan seperti sekarang.

Salam Waras dan Tetap Cerdas!

3 thoughts on “Covid-19 Virus Yang Menyerang Mental dan Otak Manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.