Jangan Ragu Menulis

Terinspirasi dari kegiatan @30haribercerita tahun 2019 ini, aku berkeinginan untuk terus menulis sebagai bentuk melatih diri sendiri. Menulis untuk berbagi, berbagi tentang apapun. Menulis untuk mengembangkan diri bukan sekadar menyalurkan hobby. Menulis untuk memberi arti dalam hidup ini.

Banyak temanku bilang, kalau berbicara lebih mudah dari pada menulis. Ketika kami sedang kumpul untuk sekadar bertemu dan berbincang, biasanya tercetus banyak ide yang tetiba muncul dan mengalir begitu saja dalam setiap perbincangan. Pernah suatu ketika, aku bersama beberapa teman sedang bertemu untuk berbincang, tidak sedikit ide yang tetiba mengalir dalam perbincangan kami namun tak pernah ada yang bersedia menuliskannya karena berbicara lebih asyik dan seru ketimbang menulis. Aku setuju, karena aku pernah mengalami hal itu dan sering. Berawal dari situlah akhirnya aku memiliki ide untuk belajar menulis. Selain berbicara aku sendiri juga yang akan menulis apa yang aku bicarakan. Terkadang apa yang aku bicarakan pun tetiba muncul begitu saja. Menuliskan semua ide yang terpikirkan, walau hanya sebuah draf.

Dalam perjalanannya ternyata lebih banyak malas untuk menulis, lebih enak merekam pembicaraan saat ada hal penting yang menjadi perbincangan. Ahh, rasanya jemari tangan ini berat sekali mengangkat pena nan kurus memanjang ini. Meski sering didorong paksa oleh teman-temanku, menulis tetap menjadi momok bagiku. Menjadi notulen dalam berbagai acara seminar sering aku lakukan, tetapi lebih senang mendengarkan dan belajar ketimbang menulis. Alhasil ketika diminta membuat notulen aku tak pernah benar-benar berhasil. Aku hanya mampu menuliskan point penting yang mengandalkan ingatanku, padahal point-point itu tak selalu bisa dipahami oleh yang lain.

Namun berkat dorongan dari teman-teman pulalah, yang enggak pernah marah dengan hasil notulenku (buatku sendiri sangat mengecewakan) aku tetap diminta untuk menjadi notulen. Aku sering menolak, tapi memang dari pada yang lain ternyata aku sedikit lebih rajin untuk menulis. Aku yang suka banget ngomong ini tetap menjadi notulen yang suka ngomong juga. Oh itu sungguh tidaklah mudah buatku, karena apa yang aku sampaikan saat berbicara ternyata tak ada yang menuliskan. Dan itu mengesalkan bukan…

Aku tetap diminta menjadi notulen. Namun bagiku menulis itu lebih nyaman mengayunkan pena di atas kertas ketimbang memainkan jemari di atas keyboard laptop. Ya, aku lebih nyaman menulis dengan pena ketika diminta untuk menjadi notulen. Jariku untuk mengetik tak cukup lincah mengikuti setiap kalimat yang terucap. Lebih lincah dengan corat-coret pena di atas kertas, bebas meliukan dengan singkatan kata atau gambar-gambar mungil untuk meringkas.

Aku memang harus berterima kasih kepada mereka yang selalu menawariku job untuk menjadi notulen, terutama pada teman-temanku yang selalu memaksaku untuk menjadi notulen. Karena tanpa dipaksa untuk menulis aku tak mungkin bisa menikmati menulis seperti saat ini.

Aku mulai terbiasa menulis dengan dan atau tanpa pena. Karena ide untuk menulis itu bisa datang tetiba sesuka hati, di mana saja. Aku ingin menulis tidak hanya untuk sebuah acara seminar, tapi aku juga ingin menulis apa saja, di mana saja untuk berbagi.

Jangan pernah ragu untuk mulai menulis. Tidak perlu merisaukan apakah tulisan itu akan terbaca atau tidak yang terpenting adalah berani untuk mulai menulis.

Menulis membantumu untuk mengingat banyak hal yang sudah maupun akan kau kerjakan.

#arthaliya #menulis #marimenulis #nulisyuk #30harimenulis #30hms #30hms1901

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.