Resensi Buku Karena Aku Tak Buta

Karena Aku TAk Buta

Judul : Karena Aku Tak Buta
Penerbit: Metamind
Penulis : Redy Kurniawan

Bagiku buku ini membantuku untuk mengenal identita atau jati diri Bangsa Indonesia. Meski ini hanya sebagian kecilnya. Menelusur dengan imajinasi namun begitu nyata. Menyatukan kembali suasana Desa yang terlupakan.

Adalah Zat nama salah satu tokoh dalam buku ini yang mencoba menelusur keingintahuan akan seberapa Indonesia kah dirinya. Rasa penasaran Zat yang membawanya mengenal sebuah Desa di Muntilan menjadi tolak ukurnya untuk menilai seberapa Indonesia kah dia. Kenyataan mendapati ada banyak hal yang tidak Ia ketahui membuat dirinya memiliki kemauan keras untuk melakukan sesuatu. Ditambah lagi ketika Ia mendapati sebuah museum permainan tradisional di Yogyakarta yang di gagas oleh seorang Belgia, membuat dirinya tertampar sekaligus malu. Ia berjanji untuk melakukan sesuatu dan tidak menutup mata terhadap perjuangan orang-orang yang melestarikan tradisi dan budaya Bangsa tanpa pamrih.
Buku ini sangat menginspirasi buat siapa saja yang ingin menguji seberapa Indonesia kah kita. Di tengah maraknya modernisasi, buku ini sangat tepat untuk remaja dan anak muda untuk lebih mengenal Indonesia. Bagaimana anak muda terlibat dalam setiap kegiatan untuk melestarikan budaya tradisional yang mulai tergerus dengan budaya modern. Mengajak anak muda berpikir akan nasib Bangsa sendiri saat mulai kehilangan jati diri. Haruskah diam dan mengikuti arus kemajuan zaman tanpa peduli lagi dengan nilai budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang dan para leluhur Bangsa ini? Atau seperti apakah anak muda harus bersikap?
Aku tidak buta seperti kata Zat dalam buku ini, malu saat melihat Bangsa lain yang justru lebih peduli dan memikirkan budaya tradisional Bangsa kita. Bagaimana dengan kamu dan kalian? Apakah hanya akan melihat budaya tradisional yang sejatinya merupakan identitas Bangsa lambat laun terlupakan begitu saja?
Zat dikisahkan dalam buku ini mulai menyadari akan seberapa penting Ia dan kawan-kawannya harus terlibat lebih lagi dalam melestarikan Budaya. Meski hanya sekadar mengenal keberagaman yang ada, belajar mengenal Budaya Bangsa, itu sudah bisa dikatakan ikut terlibat, bukan malah menutup mata asyik sendiri dengan dunia yang sekarang ada.
Seberapa Indonesia kah kau?

Cuplikan Kalimat yang aku suka dalan novel ini

“Anak zaman sekarang, lebih suka bermain game online daripada bermain bersama teman yang dapat membangun keharmonisan, kebersamaan, dan nilai sosial yang tinggi. Lebih suka mainan import berbahan plastik yang tinggal pakai daripada membuat mainan dari bahan alam yang bisa meningkatkan kesadaran cinta lingkungan sekaligus menstimulasi otak untuk berkreativitas.”

“Budaya merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya, agar tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu.”
“Untuk mengembalikan masa lalu, memang mustahil. Akan tetapi seenggaknya, kita kenal. Kalau bisa menjaga apa yang pernah kita miliki dan pernah jaya di masanya, kebudayaan akan terus eksis.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.