Menunggu

Menunggu…
Setiap detik dalam detak jantungku, setiap itulah aku selalu menunggu. Tak lantas berhenti begitu saja, namun dalam setiap langkah kaki ini ada langkah yang mengambang.

Ketika ku menunggu, bukan berarti aku diam dan bersandar pada dinding tembok tak berucap. Namun, ketika ku menunggu ada asa yang bergelora dalam setiap nafas yang kuhirup. Semakin dalam kuhirup semakin terasa pedih. Tak ada kepastian seperti gelap yang tiba-tiba menggelantung di langit, sebentar kemudian hujan turun membasahi bumi. Lantas tak tau kapan akan reda. Bahkan bisa semalaman hingga fajar kesiangan esok harinya.

Menunggu, membuat jemu. Jika aku hanya diam. Bergerak lebih baik, sembari aku menunggu. Entah sekedar berbasa-basi bertanya pada orang atau asyik dengan buku yang sedang ku pegang.

Menunggu, membuat kesal. Jika aku hanya terus berpikir sendirian. Bernyanyi lebih baik, ketika aku menunggu biasanya aku akan bernyanyi lirih jika tak ada yang keberatan aku akan bernyanyi lebih kencang.

Menunggu, membuang waktu. Jika aku hanya melamun tak tentu arah. Melakukan sesuatu itu lebih baik, menulis misalnya. Seperti sekarang ini ketika aku sedang menunggu kabar darimu, aku memilih untuk menulis ceritaku menunggu kamu.

Apa saja bisa terjadi dalam hidup ini. Godaan dan rintangan seakan datang silih berganti. Namun setiap kita berhak untuk menentukan pilihan. Mau aktif untuk produktif atau tetap pasif tanpa ada hasil kreatif.

Menunggu bukan tentang menghabiskan waktu. Tapi bagaimana kita bisa mengisi waktu saat menunggu.

📷 By me
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1926 #marimenulis #menulis_yuk #menunggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.