Reresik Jeron Beteng Kegiatan Peduli Lingkungan Yang Bertepatan Dengan Jumeneng Dalem

Bertempat di Alun-alun Kidul (selatan) Yogyakarta pukul 06.00 wib kemarin aku mengikuti kegiatan gerakan peduli lingkungan yang bertepatan dengan peringatan 30 tahun masehi Sri Sultan HB X bertakhta (Jumenengan Dalem)

“Reresik Jeron Beteng” nama kegiatan yang didukung penuh oleh GKR Bendara ini murni kegiatan gotong royong dari masyarakat untuk mendukung dan melestarikan warisan budaya di kota Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan banyak komunitas dan berbagai lapisan masyarakat. Terdiri dari warga kecamatan kraton, Paguyuban pelaku usaha alun-alun kidul, Koramil 11, Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Komunitas peduli pariwisata sejarah purbakala. Juga anak muda yang menjadi relawan Garuk Sampah, mereka terdiri dari pemuda karang taruna, Saka Kalpataru, dan mahasiswa mahasiswi yang berasal dari berbagai daerah.

Kenapa harus membersihkan alun-alun? Bukankah sudah ada yang bertugas? Mungkin banyak yang bertanya tentang ini, bagiku peduli lingkungan sekitar itu bukan lantas membantu petugas kebersihan untuk membersihkan alun-alunnya. Namun, peduli lingkungan adalah saat aku tahu tanggungjawabku akan sampah yang aku buat sendiri. Harus aku apakan, harus aku buang kemana? Selanjutnya peduli akan dampak sampah sendiri untuk orang lain dan sekitar. Dan, tahu kah kamu? Alun-alun dan bangunan sekitar merupakan Cagar Budaya yang harus dijaga bersama, bukan saja petugasnya. Kalau bukan kita yang peduli lantas siapa lagi?

Memang tidaklah mudah untuk memiliki kesadaran tinggi peduli terhadap lingkungan. Karenanya dengan membiasakan diri ikut terlibat dalam berbagai kegiatan peduli lingkungan itu bagus untuk membentuk kebiasaan. Selain itu, dapat ikut serta melestarikan tradisi budaya lokal kerja bakti, gotong royong yang merupakan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia. Terbiasa melakukan gotong royong atau kerja bakti dapat membentuk pribadi yang mau peduli tanpa pamrih. Kalau tidak percaya, buktikan saja dan cobalah.

Soal kebersihan bukan saja tanggungjawab petugas kebersihan namun setiap orang yang memiliki sampah dari setiap kehidupannya juga harus ikut bertanggungjawab akan sampah-sampah yang senantiasa dihasilkan. Minimal jangan nyampah! Kalau tidak mau membersihkan atau ikut kegiatan kebersihan lingkungan. Setidaknya kalau tidak nyampah, tidak perlu membersihkan bukan? Malu sama petugas kebersihan, yang senantiasa membersihkan sampah yang dihasilkan dari mereka “orang-orang yang suka nyampah sembarangan!”

Menyambut hari bumi yang entah sudah berapa kali dirayakan, seharusnya membuat kita semakin sadar akan lingkungan sekitar. Salam Lestari Salam Konservasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.