Review Film Miracle In Cell No 7

Photo/Gambar by google

Review Film Miracle in Cell no 7

Sutradara : Lee Hwan-Kyung
Durasi : 127 menit
Rilis : 08 Maret 2013

Pemain

  • Lee Yong Go (Ayah) : Ryoo Seung-Ryong
  • Ye Sung (Putri) kecil : Kal So-Won
  • Ye Sung dewasa : Park Shin Hyen

Awal mula aku menonton film ini, atas rekomendasi seorang teman. Niatnya untuk mengisi waktu liburanku dengan menonton Film. Namun kenyataannya aku menonton ini tepat di Tgl 23 Desember 2020 malam. Bertepatan dengan Ye Sung ulang tahun dan eksekusi Ayah Ye sung dalam film ini. Suatu kebetulan yang luar biasa menurutku karena pesan dalam film ini pun tersampaikan pass banget dalam suasana Natal. Bukan suasana liburannya malahan. Pada akhirnya aku mendapat suatu perenungan untuk Natal kali ini.

Cerita dalam film Miracle in cel no 7 begitu sederhana, walau terkesan drama namun bagiku pribadi memiliki pemaknaan yang begitu mendalam dan berarti. Ye sung kecil ingin memiliki tas kuning bergambar sailor moon, namun Ayahnya (Lee Yong Go) yang memiliki keterbelakangan mental baru bisa membelikannya nanti kalau sudah menerima gaji dari pekerjaannya sebagai tukang parkir. Setiap hari Ye Sung dan Ayahnya melewati toko yang menjual tas kuning bergambar sailor moon, terkadang berhenti untuk sekadar memandanginya.

Pada suatu ketika Ye Sung dan Ayahnya sedang melihat Tas tersebut dari luar toko. Sesaat kemudian tas yang hanya tinggal satu, terbeli oleh seorang anak Komisaris Polisi. Di dalam toko terjadi keributan kecil antara Ayah Ye Sung dan Komisaris Polisi.

Selang beberapa hari kemudian, anak Komisaris Polisi menemui Lee Yong Go untuk memberitahukan toko lain yang menjual tas kuning bergambar Sailor moon. Lee Yong Go mengikuti dari belakang anak komisaris Polisi, menuju toko yang dimaksud. Dalam perjalanannya anak komisaris terjatuh dan meninggal seketika. Pada saat itu, Lee Yong Go terjebak dalam kasus dengan tuduhan penculikan, kekerasan seksual dan pembunuhan. Karena kecerdasannya sangat rendah, Lee Yong Go tidak bisa membuat pernyataan yang bisa membela dirinya.

Photo/gambar by google

Pada hari yang sama, Ye Sung menunggu Ayahnya yang tak kunjung pulang dan tak ada kabar. Kemudian, di hari berikutnya Ye Sung tak sengaja melihat Ayahnya yang sedang melakukan reka adegan bersama polisi, saat itulah Ye Sung dan Ayahnya harus terpisah Lee Yong Go masuk penjara dan Ye Sung dikirim ke sebuah lembaga pengasuhan. Lee Yong Go dimasukan dalam sel penjara nomor 7 dengan tingkat keamanan tinggi. Dalam sel tersebut,Lee Yong Go bertemu dengan penghuni lain. 5 Narapidana kelas kakap lainnya yaitu : Bong Sik (pencopet), Chun Ho (penipu), Man Beom (pezinah), Kakek Seo (penipu) dan So Yang Ho si gangster penyelundup tapi buta huruf yang merupakan pimpinan narapidana sel nomor 7. Ye Sung dan Ayahnya saling merindukan, begitulah kedekatan dan kasih sayang antara Ayah dan anak tergambar dalam Film ini.

Sudah menjaddi budaya para narapidana di seluruh dunia, bahwa jenis narapidana yang paling dibenci oleh narapidana lainnya adalah pemerkosa apalagi yang diperkosa adalah anak-anak. Akibatnya Lee Yong Go dipukuli oleh 5 narapidana lain yang menghuni sel nomor 7 dan juga dimusuhi.

Pada awalnya penghuni sel lain begitu keras dan memperlakukannya dengan tidak baik. Namun karakter Lee Yong Go yang memang dasarnya orang baik, meski diperlakukan tidak baik tetap saja membalasnya dengan kebaikan. Sungguh dalam hal ini, aku belajar sifat dan karakter baik itu akan selalu mengikuti dimanapun kita berada, tak peduli tempat dan situasi apapun.

Hingga akhirnya teman-teman sel nya berusaha untuk membantu Lee Yong Go dapat bertemu dengan Ye Sung, agar hubungan Ayah dan Anak tetap terjalin. Tak peduli bagaimana sulitnya berbagai hal yang harus mereka temui, mereka menyiapkan berbagai trik untuk mengelabuhi para penjaga.

Apa hukuman yang harus diterima Lee Yong Go pada akhirnya? Kalian harus menonton sendiri yaa, semoga mendapatkan pemaknaan juga setelah melihat Film Miracle in cell No 7. Karena memang sungguh keajaiban yang terjadi, bagaimana seorang Ye Sung anak kecil yang menjadi pelita, membawa penghiburan bagi mereka yang pernah tersesat.

Aku belajar banyak dari makna yang tersirat, pesan Natal yang kembali hidup untuk memberiku spirit menutup tahun 2020 dan mempersiapkan diri untuk membuka tahun 2021 dengan suatu hal yang kembali diperbarui. Kasih sayang seorang Ayah yang begitu tulus, meski sang Ayah nampak bodoh di depan semua orang, namun tidak di depan Anaknya. Bahwa Tuhan Semesta alam begitu nyata dalam hidup, memberikan banyak keajaiban yang mungkin tidak pernah kita sadari.

Terkadang apa yang kita lakukan dianggap hal bodoh oleh orang lain, namun ketika kita melakukannya dengan hati yang tulus dan penuh cinta, itu sungguh dapat memberikan dampak yang luar biasa, yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita.

Terima kasih 2020 begitu banyak hal yang aku bisa maknai dalam setiap perjalanannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.